#cokilicious

FEED ME, TASTE ME, EAT ME!

KOKONAO: Keelokan yang terlunta-lunta


Di Pesisir Selatan pulau Papua yang berpayau dan lembab, di tangah hamparan belantara hutan sagu dan bakau yang lebat, serta sungai-sungai berliku berwarna coklat, di sanalah Kokonao terperosok—sepi dan terlupakan. 

Kokonao—yang memiliki pemandangan alam yang elok—merupakan ibu kota distrik Mimika Barat. Untuk mencapainya, kita membutuhkan waktu dua setengah jam lebih menyusuri sungai-sungai yang bercabang—dan bermuara ke laut Arafura—dengan menggunakan speedboat dari Mapurujaya, Timika. Seperti daerah-daerah lainnya di sepanjang Pesisir Selatan, Kokonao bisa dicapai dengan transpotasi air yang tergantung pada pasang surut air laut (Perhitungan Air). Pada saat air laut surut, sungai-sungai akan menjadi dangkal dan beberapa tempat berubah menjadi hamparan lumpur. Jika kita beruntung, ada pesawat perintis dari Timika dan kitapun bisa mencapai Kokonao dalam waktu 25 menit. Namun penerbangan ke Kokonao tidak ada setiap minggu.

Hari beranjak malam ketika kami tiba di Kokonao. Penduduk ‘kota’ tertua—yang sebenarnya lebih mirip sebuah dusun tertinggal di pedalaman ini—belum bisa menikmati pelayanan listrik. Memang terdapat satu-dua genset milik pedagang-pedagang Bugis dan Paroki Maria Bintang Laut Kokonao. Paroki ini juga memiliki bisnis pabrik es yang didirikan atas kerjasama dengan USAID dan PT. Freeport Indonesia. Sebagai sarana publik, di Kokonao terdapat SD Negeri, Sekolah Menengah dan Sekolah Sepak Bola yang dikelola Paroki bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), serta sarana kesehatan atau Puskesmas dan dua tempat ibadah (gereja Katolik dan mesjid kecil yang dipulau Jawa dan Sumatera lebih mirip suaru).

Penduduk distrik Mimika Barat berjumlah 4000 jiwa. Mata pencarian mereka masih merupakan sisa-sisa dari masyarakat berburu dan meramu. Alam Papua yang kaya akan keberagaman tumbuhan dan satwa menyediakan segala kebutuhan mereka. Pohon-pohon sagu di sepanjang pesisir melimpah sebagai sumber makanan utama. Mereka juga mengkonsumsi berbagai jenis ikan, seperti kakap dan baronang yang sangat mudah di dapatkan. Ketersediaan hutan-hutan bakau yang lebat, menyediakan udang dan karaka (sejenis kepiting) yang hidup dan bertelur di antara akar-akar bakau. Selain itu, mereka juga berburu anjing hutan, babi, kus-kus, burung kasuari dan kanguru pohon ke hulu-hulu sangai yang ditumbuhi berbagai macam jenis tumbuhan hutan hujan tropis yang lebat.

Dahulu pemerintah kolonial Hindia-Belanda menjadikan Kokonao sebagai pusat pemerintahannya. Ketika itu Kokonao merupakan daerah yang cukup maju, apalagi jika dibandingkan dengan daerah-daerah sekita pegunungan. Pada tahun 1902 misionaris Belanda memasuki Wilayah Mimika. Setelah Perhimpunan Geografi Belanda (Royal Geographical Society) membuat peta garis pantai selatan, pada tahun 1905, A. J. Kroessen menjelajahi daerah hilir sungai Mimika dengan perahu motor dan bertemu penduduk asli Kamoro. Kemudian pada tahun 1926 pemerintah Hindia-Belanda membentuk distrik Mimika. Baru pada 1928 pengaruh Gereja Katolik mulai berkembang di Kokonao. Akibat dari perang panjang antara suku Asmat dengan suku Kamoro, yang menyebabkan teror dan ketakukan pada suku Kamoro membuat gereja Katolik meminta pertolongan Belanda untuk membantu orang-orang Kamoro. Karena hal tersebut, ajaran gereja Katolik tumbuh subur di daerah Mimika. Kebiasaan mereka yang tadinya suka berpindah-pindah, akhirnya mulai menetap di sekitar Kokonao. Anak-anak mereka mulai masuk sekolah dan kemudian menjadi guru-guru yang membantu tugas misionaris Belanda di wilayan ini. Dan akhirnya Kokonau pun menjadi pusat pemukiman suku Kamoro.

Papua Barat (ketika itu diberi nama provinsi Irian Jaya) menjadi bagian dari Republik Indonesia tahun 1969. Pada masa Orde Baru, diktator Soeharto memberi izin kepada Freeport Mc Moran untuk melakukan eksprolasi bijih-bijih emas dan tembaga di pegunungan Cartensz, dan kontrak karya ini berlangsung hingga sekarang. Sejak saat itu pusat pemerintahan pun dipindahkan ke Timika. Guru-guru dan kaum terdidik, yang tadinya membantu misionaris Katolik dan pemerintah Hindia-Belanda, kemudian menjadi pegawai-pegawai pemerintah Indonesia.

Germanus Wayaru merupakan salah seorang tetua suku Kamoro. Ia menyebut diri mereka sebagai orang Mimika. Mimika berasal dari perkataan Mi-mi-yei-ka yang berarti ‘sungai yang mengalir ke hulu’. Air yang mengalir ke hulu ini merupakan air laut yang pasang melewati sungai-sungai berkelok dan menggenangi hamparan hutan-hutan bakau dan rawa-rawa yang ditumbuhi pohon-pohon sagu. Mimika menjadi penunjuk identitas yang mengaju pada masyarakat pesisir pengguna bahasa Kamoro dan saudara serumpun mereka, suku Sempan.

Adalah Peter Petrus Drabbe, seorang ahli bahasa dan misionaris asal Belanda yang pertama sekali memperkenalkan sebutan kamoro dalam artikelnya yang dimuat di majalah OCEANIA tahun 1947. Hingga kini, dalam berbagari tulisan dan dokumen-dokumen resmi suku persisir ini dikenal dengan suku Kamoro. Sementara bagi suku pesisir ini, kamoro berarti Orang Hidup. “Kami adalah orang Mimika,” kata Germanus Wayaru, Kepala Suku Kampung Mimika, yang kami temui di Kampung Mimika, Kokonao. “Kita semua orang Kamoro. Karena kita semua adalah orang hidup,” tegasnya.

Germanus Wayuparu merupakan sisa-sisa masyarakat adat yang masih menerapkan prinsip-prinsip yang diwariskan oleh leluhur orang-orang Mimika. Generasi mudanya sendiri kini berorientasi ke Timika yang “modern”. Kehadiran raksasa perusahaan tambang milik Amerika ini menyebabkan terjadinya gelombang migrasi penduduk ke Mimika, terutama yang datang dari pulau Jawa dan Sulawesi. Migrasi besar-besaran ini mengakibatkan suku yang mendiami kawasan pesisir berserta saudara mereka di pegunungan menjadi semakin tergusur dari tanah leluhur mereka sendiri. Jumlah penduduk di kabupaten terkaya di dunia ini adalah 180.000 jiwa. Suku-suku asli terdiri dari 30.000 jiwa. Sementara 150.000 jiwa lainnya merupakan pendatang dan 18.000 jiwa dari mereka bekerja untuk perusahaan tambang Freeport.Kehadiran Freeport bukan hanya membawa kemajuan, tetapi juga berdampak negatif terhadap tradisi suku-setempat. “Saya sangat khawatir, kalau saya cepat dipanggil Tuhan, siapa yang akan menerusakan dan menjaga tradisi ini?” Germanus seperti bertanya pada dirinya sendiri. Generasi muda tidak lagi memikirkan adat dianggap sudah kuno.

Leluhur suku Kamoro mewariskan berbagi kekayaan tradisi yang kini mulai memudar. Dahulu terdapat berbagai upacara ritual untuk memuliakan roh leluhur yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam. Kehidupan spritual suku Kamoro tidak bisa dilepaskan dari hal tersebut. Maka segala bentuk kesenian seperti tari, nyanyian dan ukiran-ukiran selalu berhubungan dengan legenda dan mitos yang berisi ajaran-ajaran leluhur mereka.

Secara temurun dikisahkan, seorang anak kecil menemukan sebutir telur di pinggir pantai ketika ia sedang bermain. Telur tersebut dibawa pulang, dirawat dan menetaskan seekor buaya. Setelah besar, buaya tersebut memangsa hampir seluruh penduduk kampung. Seorang perempuan yang sedang hamil, Mbirokateya, merupakan satu-satunya yang selamat dari keganasan reptil tersebut. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Mbirokateyau.

Ketika Sang ibu menceritakan peristiwa buaya yang memangsa penduduk kampung mereka, Mbirokateyau telah tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa yang kuat. Mbiroketayau berjanji akan membunuh sang buaya. Dan dalam satu perkelahian sengit, ia berhasil mengalahkan dan memotong-motong reptil itu menjadi empat bagian, kemudian melemparkannya ke arah empat penjuru mata angin. Bagian pertama ia lempar kebagian Timur sambil ia berkata “Umuru me,” yang kemudian menjadi asal-usul suku Asmat. Lemparan kedua ke arah Barat sambil berkata “Kamoro we,” sebagi cikal-bakal suku Kamoro. Adapun lemparan ke tiga menuju ke arah utara, yang dipercaya sebagai nenek-moyang suku-suku di pegunungan, seperti Amungme, Mee, Dani dan lain-lain. Dan potongan terakhir ia lemparkan ke arah selatan sambil berkata “Semopano we”, yang menjadi suku Sampan.

Leluhur suku Kamoro membentuk kelompok-kelompok suku dengan saling mengunjungi dan saling menjalin hubungan antar sesama kelompok. Dalam setiap kelompok, mereka memiliki tetua adat untuk mengatur ritual adat yang disebut Kakurue We. Mereka mengatur sukunya melalui sebuah rumah adat yang disebut Taparu. Dalam struktur pemerintahan adat ini, Weyaiku adalah pemimpin tertinggi di Taparu. Dia memiliki tanggungjawab untuk melindungi masyarakatnya dan sekaligus merangkap sebagai panglima perang untuk mempertahankan hak-hak ulayat suku Kamoro dari gangguan suku-suku lainnya.

Adapun ritual yang utama dalam suku Kamoro adalah upacara Karapao, yakni inisiasi pendewasaan seoarang anak laki-laki. Upacara ini dilakukan dalam sebuah bangunan sementara yang berbentuk memanjang, dindingnya terbuat dari anyaman daun sagu, tiang-tiangnya saling terikat dan atapnya terbuat dari jerami. Lebarnya kira-kira tiga meter dan panjangnya tergantung pada jumlah pintu. Sedangkan jumlah pintu tergantung pada jumlah anak yang akan diinisiasi. Untuk memastikan seorang anak siap melakukan upacara Karapao adalah dengan menyuruhnya menonjok batang pisang. Jika kesakitan berarti ia belum siap.

Upacara yang meriah ini berlangsung beberapa hari—mirip sebuah karnaval. Tifa ditabuh, tarian-tarian dipertunjukkan dan nyanyian yang dipimpin seorang ahli (Ndikiarawe) menggema sepanjang upacara. Tubuh anak-anak yang akan diinisiasi dilukis dengan jelaga, kapur dan berbagai warna alami yang terbuat dari dedaunan dan biji-bjian. Tiang-tiang besar diukir menjadi Mbitoro (patung-patung leluhur), dilukis dan dibangunkan dengan mantra-mantra yang diatur oleh Opakawe (tua adat yang memimpin seluruh prosesi upacara). Dengan gagah Mbitoro diarak keliling kampung sebelum akhirnya diikat di depan Karapao. Pendirian Mbitoro bertujuan mendatangkan kembali kekuatan dan kebijaksanaan dari seorang leluhur. Semasa hidupnya ia adalah seorang yang kuat, dihormati dan memiliki satu kemampuan khusus. Misalnya ahli dalam membuat perahu atau berburu yang layak untuk ditiru dan dicontoh oleh anak laki-laki yang diinisiasi ini.

Penduduk kampung akan bergotong-royong mengumpulkan berbagai kebutuhan seperti sagu dalam jumlah yang besar, perempuan-perempuan naik perahu pergi memancing ikan, mencari udang dan kepiting. Sementara pria-pria dewasa akan pergi membawa anjing terbaik mereka untuk berburu babi hutan ke hulu-hulu sungai.

Upacara Karapao yang kedua dilakukan beberapa tahun kemudian. Anak-anak yang diinisiasi akan menukar tapena-nya (pakaian kanak-kanak) dengan dedaunan sebagai pembungkus kemaluannya. Adapun upacara yang ketiga merupakan tambahan dan dilaksanakan apabila mereka sudah dianggap dewasa, siap untuk berkeluarga. Pada saat itu, hidung mereka akan dilobangi dan dipasang taring babi. Sejak tahun 1950an, upacara pelobangan hidung ini sudah hilang dari tradisi suku Kamoro.

Seperti Germanus Wayaru, Pius Nimepo, kepala suku Kamoro di Ayuka kini juga mengalami kekhawatiran yang sama. “Kita mau mengatur secara adat susah. Anak-anak muda tidak mau dengar lagi. Ini pangaruh dari alkohol,” tegasnya menyikapi berbagai persoalan lain yang dihapai suku Kamoro saat ini. Kehadiran Freepot dan membludaknya para pendatang juga dibarengi dengan munculnya tempat-tempat prostisusi. Nilai-nilai adat mulai luntur ketika berbagai pengaruh yang baru ini meresap dalam kehidupan suku Kamoro. Dana satu persen dari pendapatan Freeport yang merupakan konsesi atas tanah ulayat mereka juga tidak secara otomatis membawa perbaikan dalam kehidupan mereka. Awalanya dana ini dikelola secara serampangan dengan membagi-bagikan uang kontan kepada masyarakat melalui kepala suku dan kepala desa. Walhasil, suku yang mendiami bumi yang kaya dan elok ini semakin hari-semakin terperosok ke dalam ketidakpastian …

*Tulisan ini diterbitkan majalah TAPIAN, edisi Arpil 2010.

Filed under: PERJALANAN

Memasak Itu Seksi, Jendral!


MEMASAK, seperti menulis, merekam, bercinta dan berpetualang merupakan aktivitas yang seksi! Saya bukan koki profesional, melainkan hanya koki gadungan yang sejak dulu doyan menyolong resep dari dapur Emak. Oleh kerena kecintaan saya pada kebiasaan “kenakalan remaja” saya dulu, yakni MEMASAK, maka blog ini  saya dedikasikan sepenuhnya bagi penggila rempah-rempah Nusantara dan para pejalan larut yang siap membebaskan dapur dari dominasi kekuasaan emak-emak. Catatan perjalanan dan resep-resep masakan yang terdapat dalam blog ini sudah berceceran di twitter dan facebook. Semua resep yang tercantum tidak membutuhkan sertifikat “halal” dari MUI, karena resep-resep tersebut sudah ada jauh sebelum lembaga itu ada. Mari memasak dan mengunjungi pelosok-pelosok Nusantara.

Oh ya, Dapur kami menerima layanan pemesanan resep. Silahkan tulis email ke cokikokigila@gmail.com

Filed under: PERJALANAN, RESEP

Kari Ayam Hula-hula


Bahan:
Satu ekor ayam kampung dipotong-potong sesuai selera. Tentunya setelah disembelih, bulu-bulunya dicabuti setelah direndam satu menit dengan air panas. Agar aroma karinya lebih cihuyyy, sebelum dipotong-potong, ayamnya dibakar dulu di atas api 3 sampai lima 5 menit, sehingga kulit ayamnya agak gosong-gosong gimana gitu dan harumnya semerbak.

Ayam yang sudah dipotong-potong dilumuri dengan 1/2 sendok teh garam, 1/2 sendok teh merica bubuk dan lebih seksi lagi jika ditaburi juga dengan satu sendok makan bawang merah goreng yang telah diremas-remas. Apalagi remas-remasnya dengan bergairah. Hmmmm….

• 200 gram kentang, di rebus hingga matang dan dikupas, belah jadi 4. Dan tentu saja lebih jitu lagi kalau dapat kentang Medan yang sebesar buah dukuh itu. Kentang yang sangat imut!

Bahan Kuah :
• 6 siung bawang merah, iris tipis
• 3 siung bawang merah, iris tipis
• ½ sendok makan ketumbar
• ½ sendok makan merica
• ¼ sendok makan jintan
• 4 biji kapulaga
• 5 cm lengkuas
• 3 cm kunyit yg sebesar jari telunjuk
• 2 cm jahe yg sebesar jari telunjuk
• ½ cm biji pala
• 1 sendok makan andaliman
• 400 cc santan
• 1 sendok makan garam
• 7 buah cabai merah keriting
• 1 lembar daun kunyit
• 1 biji buah kemiri
• 5 lembar daun jeruk nipis
• 2 batang serai
• 3 lembar daun salam

Cara membuat :

•Ambil cobek. Tumbuk hingga halus ketumbar, jinten, kemiri, pala dan merica. Jika sudah halus, bumbu tersebut dipindahkan ke dalam wadah, misalnya mangkok. Jangan dimasukkan ke dalam ceret atau dalam kuali dulu. Sekarang anda melanjutkan menumbuk halus cabe keriting dicampur dengan garam yang satu sendok makan itu. Setelah cabe halus, cabenya ditimpe dengan kunyit hingga halus, kemudian ditimpe lagi dengan jahe. Setelah dianggap sudah cukup halus, kemudian ditimpe pula dengan bumbu pertama yang telah dihaluskan itu. Campur aduk hingga sama-rasa sama-rata babak belur hingga gak tau lagi bentuk-bentuknya. :p Setelah itu Barulah anda masukkan ke dalam kuali, atau panci dan asal jangan dimasukkan ke dalam termos saja. Lantas mari melumuri bumbu tersebut dengan santan kepala.

•Anda jangan panik dulu dan merasa pekerjaan anda sudah selesai. Sekarang saatnya meng-keprok lengkuas, dan masukkan ke dalam bumbu yang sudah dicampur santan. Begitu juga dengan daun salam dan daun jeruk, tapi daun-daun pewangi ini jangan dikeprok. Masukkan seperti bentuk utuhnya asal jangan dengan ranting-ranting dan batang pohonnya ya. Sereh juga dikeprok hingga memar, bisa dipotong dua atau tiga sesuai selera anda. Biji-biji andaliman yang baunya memang seksi, khas pemandangan alam danau Toba nan aduhai, dimasukkan sesuai layaknya biji-biji yang masih utuh dan bisa pula dengan ranting-rantingnya. Begitu juga dengan daun kunyitnya. Dan jangan lupa keprok juga biji2 kapulaga.

•Nah sekarang pekerjaan anda nyaris selesai, tinggal menyelakan kompor atau menyiapkan kayu dan api di tungku masak. Panci yang berisi bumbu yang sudah disantani itu kini saatnya dizalimi dengan mengaduk-ngaduknya di atas api hingga mendidih. Diaduk terus biar santannya tidak menjadi gumpalan-gumpalan yang pecah. Jika telah mendidih dibiarkan dulu hingga 3 menit dan terus diaduk-aduk, setelah itu barulah kemudian masukkan ayam yang telah dipotong-potong hingga empuk. Sesekali aduk, jangan terlalu sering, bisa hancur daging ayamnya. Cicipi, jika kurang garam tambahkan secukupnya dan jika daging ayamnya sudah empuk diangkatlah. Matikan kompor atau angkat makanan yang sudah berbau elok itu dari tungku perapian.

•Simsalabim, masukkan kentang yang sudah dikupas atau dipoton-potong tadi. Selamat makan. Horas!

*Dan jika anda tidak mendapatkan biji-biji Andaliman yang harum itu, jangan khawatir, anda masih menikmati Kari Ayam Ombus-ombus Hula-hula Antar Lintas Sumatera. Cuma kadar kebatakan dari makanan itu semakin tipis. :p

Filed under: RESEP

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.